Tampilkan postingan dengan label Culture and Art. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture and Art. Tampilkan semua postingan

05 Oktober 2012

Ubiet & Dian HP: Komposisi Delapan Cinta

Enak sekali mendengarkan album ini ditengah 34 derajat celcius suhu Yogyakarta. Adem.


Jadi, album manis ini adalah musikalisasi puisi dari Sitok Srengenge dan Nirwan Dewanto, pemeran uskup Soegija dalam film Soegija. Dinyanyikan oleh Ubiet dan aransemen Dian HP, kolaborasi master etnomusiklogi lulusan University of Wisconsin dengan jebolan sekolah musik di Jerman, top :D
Sesuai judul albumnya, ada delapan track di album ini: Menulis Cinta, Wajah, Kau Angin, Cinta Pertama, Kuintet, Penghujung Musim Penghujan, Air dan Merah. Didominasi dengan lantunan suara Ubiet dan denting piano Dian HP, ada juga tambahan flute, cello, klarinet dan bass di beberapa track.




Buat orang awam kayak saya ini, dengan lirik yang kuat, suara yang merdu, serta iringan musik yang simpel, delapan track ini bagus dan unik semua. Coba download dengarkan sendiri deh :D

26 Juli 2012

Eargasm: Whale Fall

Belakangan ini saya lumayan sering muter-muter band-band post rock  yang ada di playlist, terutama malem-malem menjelang waktu tidur. Whale  Fall salah satunya, musiknya enak buat ngelamun atau sekedar nunggu kantuk datang.


Band yang berasal dari Los Angeles ini beranggotakan enam orang: J-Matt Greenberg, David Pomeranz, Ali Vazin, Aaron Farinelli, Erik Tokle dan Jamie Peregrin. Debut albumnya bertajuk self titled,  rilis bulan Februari tahun lalu.



Tracklist:

1.
03:23


2.
04:55


3.
05:56



4.


5.
06:46


6.
04:37


7.


8.
06:27


9.
00:58


10.


11.


12.
06:29 


Semua track bagi orang awam kayak saya ini, mirip-mirip sih, instrumental yang kebanyakan bertempo lambat, paduan antara gitar, cello, drum dan sesekali erangan terompet. Jadi susah buat nentuin mana track yang paling bagus. Overall, album ini layak buat didengerin kok :D


referensi:
http://whalefall.bandcamp.com/
www.facebook.com/whalefall

















21 Juli 2012

Eargasm: Yogyakarta Gamelan Festival XVII 2012

Yey, akhirnya kemarin bisa nonton full 3 hari, 5-7 Juli setelah YGF 2011 lalu cuma nonton sehari doang. Venue YGF tahun ini pindah ke Purna Budaya UGM, setelah tahun-tahun sebelumnya diadakan di Taman Budaya Yogyakarta. Jadi sedikit kurang megah sih, tapi bisa tertutupi oleh kesan guyub karena penonton bisa duduk lesehan, sehingga lebih dekat dengan panggung :D
Artis mancanegara yang manggung tahun ini adalah Vincent McDermott & friends dari Amerika Serikat dan Gamelan Club dari Malaysia. Sedangkan artis dari dalam negeri adalah Grup Joko Kendhil Perkusi dari Pamekasan, Karinding Attack dari Bandung, Rasamaya dari Solo, Gamelan Krumpyung Sekar Bambu dari Kulon Progo. Ada juga Pradangga Sawokembar, Plenthong Konslet, Angklung Fantasy, Srawung Gamelan, Swagayugama, semuanya dari Yogya.

Gamelan Krumpyung, semua instrumennya terbuat dari bambu. Khas Kulon Progo.
Professor Vincent McDermott, 78 tahun, etnomusikolog, ahli gamelan sekaligus seorang komposer klasik. Belajar gamelan sejak 1971.
Joko Kendil, beranggotakan para nelayan, wow.
Ini lupa nama grupnya -__-
Anak-anak ini membawakan juga Lazy Song-nya Bruno Mars yang sudah diaransmen ulang.
Swagayugama, kolaborasi Paduan Suara Mahasiswa, Gadjah Mada Chamber Orchestra dan Unit Kesenian Jawa Gaya Yogyakarta.
Rasamaya, dari kota tetangga, Solo.
Pembacaan puisi diiringi alunan gamelan.
Penonton menari bersama, iwak peyek!
Semoga tahun depan saya masih berkesempatan lihat event ini lagi, Yogyakarta Gamelan Festival 2013, dengan performance yang lebih bagus lagi tentunya :D

16 Juli 2012

Jazz: Sebuah Pemahaman

Tadi siang nemu artikel lama, yang ditwit oleh @wartajazz. Sebenarnya udah banyak sih artikel model kayak gini, tapi entah kenapa seneng aja baca-baca bagaimana tiap orang berbeda dalam memahami musik jazz. Dan saya suka dan sepakat dengan isi paragraf terakhir artikel ini. Cekidot :D
oleh : Dr. Heru Nugroho 

Hingga saat ini musik jazz di tanah air terus berjuang untuk dapat menjangkau berbagai lapisan dalam masyarakat. Ironisnya musik ini belum mampu menjangkau seluruh lapisan, khususnya lapisan bawah. Bahkan ada sementara anggapan, kalau bukan stereotype, yang menyatakan bahwa jazz identik dengan gaya hidup lapisan menengah keatas. Musik Jazz ada kecenderungan hanya difahami, dinikmati, dan dikonsumsi oleh orang-orang yang tergolong “gedongan” seperti kamu terpelajar, pengusaha, pejabat, dan selebriti. Sialnya lagi ada sementara anggapan bahwa karena musik jazz mempunya sofistikasi yang tinggi apabila maka ingin memahami orang harus memiliki intelegensia yang lebih dari pada pendengar musik lain. Argument inilah yang memperkuat dugaan mengapa jazz hanya dimiliki lapisan menengah ke atas.
Penjelasan yang perlu dikejar lebih lanjut adalah : Apakah musik Jazz itu?, Mengapa musik jazz yang lahir dari negeri asalanya lahir dalam kultur politik perbudakan setelah masuk ke Indonesia menjadi elit dan eksklusif? Betulkah sofistifikasi yang dimiliki jazz menurut intelegensia yang lebih dalam memahami bila dibanding dengan musik lain?

APAKAH MUSIK JAZZ ITU?
Musik Jazz lahir dari tangan-tangan kreatif orang-orang hitam yang mengalami penindasan dan perbudakan di Amerika pada akhir abad ke-18. Ekspreasi dari sebuah perlawanan terhadap sistem politik yang rasis dan menindas terwujud dalam cara bermusik dan gaya permainan orang-orang hitam Amerika. Sejarah telah mencatat bahwa perbudakan dan diskriminasi rasial di Amerika justru melahirkan musik-musik perlawanan seperti Spiritual, gospel dan blues. Gejala ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah resistensi budaya orang hitam terhadap Westernisasi, baik dari segi agama, kultur politik hingga cara bermusik, karena sebelum dibawa ke Amerika orang-orang hitam telah memiliki kebudayaan khas Afrika.
Pada awalnya spirit musik atau ideologi dibalik jazz adalah pembebasan diri orang Afro-Amerika dari belenggu struktur sosial-politik represif yang dituangkan dalam ekspresi nada, harmoni, dan gaya permainan bermusik. Sebagai contoh, ragtime yang menjadi titik awal perkembangan jazz klasik (march, waltz dan polka), swing merupakan modifikasi dari ragtime, free jazz merupakan reinterpretasi dari bebop dan world music merupakan dekonstruksi jazz mainstream. Dalam perkembangan lebih lanjut spirit jazz diinterpretasikan tidak hanya sebatas perlawanan politis, tetapi menjadi gerakan liberalisasi atau dekonstruksi bermusik dalam rangka mencari ruang gerak, alternatif cara, dan gaya permainan lain.
Akibat dari spirit Jazz yang dialektis, liberal dan dekonstruktif itu maka sebuah gaya permainan lama akan dinegasi oleh ide-ide bermusik yang baru sehingga timbul gaya-gaya permainan baru. Dalam hal ini Berend (1992) menggambarkan kronologi perkembangan jazz dalam tiga periode waktu dimana masing-masing periode melahirkan gaya-gaya permainan spesifik. Pertama, periode jazz tradisional (1890-1940) melahirkan gaya-gaya permainan Ragtime, New Orleans, Dixieland, New Orleans in Chicago, Kansas City, Chicago, Swing. Periode jazz modern (1940-1980) memunculkan New Orleans and Dixieland Revival, Bebop, Cool, Hardbop, Free, Mainstream, Fusion. Periode jazz postmodern (1980-saat ini) memproduksi gaya-gaya Neobop, free Funk, Classicism, Neo-Classicism, No Wave dan World Music.
Puncak dari dekonstruksi dalam jazz terjadi pada tahun 1965-an yang ditandai denagn hadirnya free jazz. Gaya ini merupakan tonggak perkembangan jazz postmodern dengan karakter utama tonalitas bebas (free tonality); disintegrasi pada meter, beat dan simetri; masuknya musik etnis (world music); pemujaan terhadap intensitas; dan masuknya suara-suara alam khususnya dari hutan belantara (jungle sound). Pada dekade 80 dan 90, free jazz menjadi pondasi dari perkembangan fusion dan neo-Classicism, sedang mainstream dari jazz menjelma kedalam gaya permainan Classicism. Oleh karena itu jazz tidak lagi dapat didefinisikan semata-mata sebagai gaya perminan swing, bebop atau mainstream, tetapi sebagai sebuah kebudayaan bermusik yang lebih canggih dan plural.

MUSIK JAZZ DI INDONESIA
Ketika sedang gencar-gencarnya musik jazz dipasarkan di tanah air, nampak beberapa kendala telah merintangi sehingga musik ini belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, namun justru cenderung menjadi elit dan eksklusif. Padahal kalau bersandar pada spirit yang dikandungnya jelas bahwa menjadi elit bukan merupakan tujuan penciptaan musik jazz, sebab jazz selalu “berdimensi pembebasan”. Kalau begitu barangkali ada mekanisme yang kurang tepat dalam sosialisasi jazz di tanah air sehingga hasilnya cenderung bias lapisan tertentu. Mempelajari jazz memang tidak semata-mata memahami dan menikmati gaya-gaya permainan yang ada tetapi alangkah bijaksana kalau juga memahmi dimensi historis dan ideologis yang dikandungnya dalam rangka menghindari bias-bias tertentu.
Ideologi jazz yang bersifat pembebasan, liberal, demokratis dan dekonstruktif terhadap kebekuan gaya-gaya permainan sebelumnya adalah merupakan sifat kritis yang perlu juga dipahami dan diinternalisasi oleh penggemar Jazz kalau mereka ingin mengerti apa itu Jazz. Tanpa sosialisasi dari sifat kritis musik Jazz maka para penggemar Jazz justru dapat terjebak dalam cara sosialisasi yang dikembangakan saat ini oleh “rezim industri musik” sehingga jazz menjadi elit dan eksklusif. Rezim industri musik cenderung menjual gaya-gaya permainan jazz yang mudah dipasarkan tanpa pedulu apakah gaya-gaya permainan yang ditampilkan merupakan gaya-gaya permainan sentral dalam perkembangan jazz atau hanya pinggiran. Bahkan rezim ini cenderung mengeksploitasi simbol modernitas, kehidupan kampus dan eksklusifme dalam memasarka musik jazz. Sebagai contoh merebaknya jazz jenis fusion di tanah air diduga akibat dari cara sosialisasi seperti itu.
Sedang argumen yang mengatakan bahwa jazz memiliki sofistikasi sehingga memerlukan kapasitas intelegensia yang lebih tinggi dari pada memahami musik non jazz adalah sebuah klaim yang sewenang-wenang. Musik tidak semata-mata di pahami melalui rasio tetapi juga dapat melalui rasa dan cenderung lebih merupakan akibat dari kostruksi sosial sebuah komunitas. Mengapa dangdut lebih memasyarakat dari pada jazz ? Jawabannya adalah bahwa harmoni dangdut sudah di sosialisasikan sejak lama sehingga embedded dalam kultur kita, sementara musik jazz lebih merupakan bentuk transplantasi kebudayaan musik dari dunia luar. Akibatnya jazz menjadi asing bagi sebagian lapisan masyarakat bawah yang tidak memiliki akses (baik kapital budaya, sosial maupun ekonomi), tetapi tidak asing bagi lapisan menengah – atas yang memilikinya.
Logikanya sederhana, kalau kita dilahirkan diperkampungan yang didominasi musik dangdut maka harmoni yang kita miliki adalah dangdut. Sedang harmoni diluar dangdut cenderung menjadi asing. Kalau kita dilahirkan dan tinggal di New Orleans atau setidak-tidaknya dilingkungan keluarga yang menggemari musik jazz maka harmoni musik yang kita miliki cenderung harmoni jazz, sehingga musik dangdut barangkali menjadi sesuatu yang asing bagi kita. Jadi persoalannya bukan terletak pada sofistika yang dimiliki musik jazz tetapi lebih pada “relativitas budaya” dalam bermusik. Karena perkembangan musik jazz di tanah air lebih merupakan bentuk transplantasi budaya maka muncul sebuah fenomena yang memprihatinkan dalam sosialisasi jazz, yaitu hearing without understanding dan playing without doing. (WJ)
Sumber : Down Beat, Jazz Book (J.E.Berendt) 
 

16 Juni 2012

Sendratari Ramayana

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman berkesempatan buat nonton Sendratari Ramayana di Kompleks Candi Prambanan. Kesenian yang selama ini cuma saya baca-baca doang di media. Kami pesen yang tiket rombongan, jadi dapet harga yang lebih murah, cuma sekitar 20k :D

Mas-Mbak Sinden :D
Efek gerimisnya bikin tambah keren :D
Ning nong neng Gung!
Satunya ini lupa namanya.
Shinta-Rama.
Rahwana bukan ya namanya :-?
Salah satu adegan paling keren :D
Bong obong obong~
Si kera putih, Anoman.
Ngga nyesel deh kalo nonton ini. Beberapa tips dari saya:
  1. Usahakan pilih yang outdoor aja, biar bisa liat adegan bakar-bakarannya :D 
  2. Dateng lebih awal, biar bisa pilih bangku yang enak. 
  3. Bawa makanan dan minuman juga, tentu saja jangan buang sampahnya disitu.
  4. Kalo mau ambil foto jangan pake flash, ngganggu yang lain. Tapi masih banyak yang pake flash :|
  5. Ntar di akhir pertunjukkan, bakalan ada waktu buat foto-foto, jadi jangan pulang duluan :D

01 Juni 2012

Eargasm: Kyojaku (虚弱)

Dari dulu saya tidak begitu tertarik dengan musik jejepangan (termasuk Korea dan Cina), paling cuma suka beberapa, kayak Tokyo Jazz Massive misalnya. Nah, kali ini saya nemu band jejepangan lain yang saya suka, Kyojaku (虚弱) namanya. Masuk dalam genre post-rock, yang berarti memainkan musik selain rock dengan instrumen-instrumen rock. Band-band populer lain dalam genre ini misalnya: Mogwai, Godspeed You! Black Emperor, A Silver Mt Zion, Do Make Say Think, Explosions in The Sky, Mono, Sigur Ros dan Rachel's.

Kyojaku :D

Terdiri dari empat orang gadis, 河野まな Mana Kohno (Drums) 壷内佳奈 Kana Tsuboichi (Guitar) 新井深雪 Miyuki Arai (Bass) dan Umi (Piano/Synthesizer/Glockenspiel). Kyojaku sendiri udah punya 3 album, 2 diantaranya album demo.


Album demo pertama, kabesotogy.
Album demo kedua, donguribouya.
Album ketiga mereka, Kokou No Gadan.
 Tracklist:
1. Tetsugakusha No Ronpa 03:36
2. Egoist 03:37
3. Cosmonaut 03:51
4. Terra 05:11
5. Moumaku Ni Okeru Chushoga 04:38
6. Nennen 05:10
7. Saying His Prayers 06:19
8. Nil (Piano Version) 02:13
9. Affection 05:27

Enak ndengerin musik mereka sore-sore sambil minum teh, atau jadi musik pengantar tidur. Track favorit saya adalah Tetsugakusha No Ronpa, dan Egoist. Cari link downloadnya sendiri ya :))

Referensi: official website dan last.fm


24 Mei 2012

Rememorizing: Ngayogjazz

Ngayogjazz 2012 akan diadakan di desa wisata Brayut, Sleman pada tanggal 18 November 2012. Taglinenya: Dengan Ngejazz Kita Tingkatkan Swasembada Jazz :D

Gambar diambil dari page Ngayogjazz di facebook.
Ini peta menuju kesana, nggak jauh-jauh amat sih kalo dari kota, tinggal ke utara dikit :D Klik untuk memperbesar. 

Diambil dari www.ngayogjazz.com
Sedang ini adalah line up artist yang akan mengisi, yang terbagi dalam 6 panggung:
  1. ESQI:EF (Syaharani and Queenfireworks)
  2. Benny Likumahuwa
  3. Barry Likumahuwa Project
  4. Idang Rasjidi
  5. Irianti Erningpraja
  6. Eramono Soekaryo
  7. Rio Sidik
  8. Erik Sondhy
  9. Indro Hardjodikoro
  10. Toninho Horta
  11. Jen Shyu
  12. Sinten Remen
  13. Shadow Puppet
  14. I Know You Well Miss Clara
  15. Ketzia
  16. Kampayo
  17. Komunitas Jazz Jogja
    - Chicken Jiezz
    - Berempat
    - Proyek President
    - Blank on 5
    - PROSES
    - Dialogue
    - Danny Project
    - Everyday
    - Mucichoir
  18. Komunitas Jazz Purwokerto
    - Mahamuni
    - Papa Richards and The Honkytonkman
  19. Solo Jazz Society
    - Andanawarih (ansamble quartet)
    - Streamline Quartet
  20.  Jazz Ngisor Ringin Semarang
    - Delight (fusion jazz)
    - The Interview (ethnic fusion jazz)
    - Aljabar
  21. Balikpapan Jazz Lovers
  22. Gondo & Friends Surabaya
  23. Entung Entung Gepik Jazz Salatiga
  24. Komunitas Jazz Lampung
  25.  Gubuk Jazz Pekanbaru
  26.  Komunitas Jazz Pekalongan
    - Replica Batik (proyek gabungan TRIO UP dan RSP)
  27. Jay Gatrawardaya feat. Tesla Manaf
  28.  Erwin Zubiyan and Friends
  29.  Sounf of Hanamangke Bandung
  30.  Jazz Gudangan
____________________________________________________
 
Setelah sempet tertunda karena erupsi Merapi, akhirnya Ngayogjazz IV diadakan pada bulan Februari tahun 2011 lalu. Artinya akan ada dua Ngayogjazz di tahun 2011. Event tahun ini masih diadakan di Bantul, tepatnya di kompleks kediaman seniman Joko Pekik di kampung Sembungan, Kasongan, dekat dengan sentra kerajinan gerabah. Ngayogjazz IV mengambil tagline: “Mangan Ora Mangan Asal Ngejazz", menarik. Disediakan juga sepur kelinci  yang bisa digunakan pengunjung untuk muter-muter kampung.

Suasana panggung, diselingi rintik gerimis hujan.
Denah Ngayogjazz 2010. Ada 3 panggung kali ini: Siter, Serompet dan Tambur.
Penampilan prima dari Syaharani and The Queen Fireworks. Awesome!
Glenn Fredly, artis yang paling ditunggu kebanyakan penonton.
Glenn Fredly, dari backstage.
:D

Sebenarnya masih banyak penampil yang lain, namun karena badan ini cuma satu, jadi ngga bisa nonton semuanya dalam waktu bersamaan. Ada Gugun Blues Shelter, Tohpati Bertiga dan juga Sujud Kendang.

Bzzzt, waktu kemudian berjalan cepat.

Selang sembilan bulan, masih di tahun 2011, Ngayogjazz kembali hadir. Kala itu mengambil tema: Nandur Jazzing Pakarti. Lagi-lagi mengambil tempat yang unik, yaitu Pasar Kotagede. Menarik membayangkan mengadakan pagelaran musik di pasar dan sekitarnya. Mungkin dimaksudkan agar Jazz tidak hanya dianggap sebagai musik kalangan atas, namun juga musik untuk semua kalangan. Konsep yang bagus.
Artis-artis yang dihadirkan adalah: Idang Rasidji, Trie Utami, Ligro Trio, Sierra Soetojo, Rieka Roeslan dan beberapa artis lainnya yang terbagi dalam 6 panggung: Gaog, Spleker, Horn, Sirine, Corong dan Swara Warga. Banyak ya :D
Sierra Soetojo. Cuma motret beberapa jepretan doang saking ramenya. Lumayan marakke rodo bad mood :|

Namun sayang, ada beberapa hal yang sedikit bikin saya membanding-bandingkan denga Ngayogjazz sebelumnya.  Dimulai dari nyari-nyari tempat parkir yang lumayan susah, dan macet pula; wajar sih, karena memang jalan disekitar situ memang sempit-sempit. Karena jumlah penonton yang hadir lebih banyak (perkiraan kasar saya), maka area pertunjukkan terasa sangat sesak. Ditambah lagi seperti hal-hal klasik, seperti mobile toilet  yang seperti biasa: selalu bau :D
Namun apapun itu, saya tetap suka Ngayogjazz, salah satu dari sedikit event Jazz gede-gedean yang bebas biaya masuk :p Semoga bulan November tahun ini saya bisa datang lagi ke Ngayogjazz 2012. Amin. :D

"Iki Jazz asu!" - Djaduk Ferianto.

19 Agustus 2010

Solo Batik Carnival 2011


Bermodal kamera prosumer dan kenekatan.

04 Mei 2010

Fitter Happier - Radiohead



[00:02.33]More productive
[00:03.43]Comfortable
[00:05.13]Not drinking too much
[00:06.30]Regular exercise at the gym (3 days a week)
[00:10.06]Getting on better with your associate employee contemporaries
[00:14.47]At ease
[00:15.38]Eating well (no more microwave dinners and saturated fats)
[00:19.53]A patient better driver
[00:21.36]A safer car (baby smiling in back seat)
[00:24.67]Sleeping well (no bad dreams)
[00:27.01]No paranoia
[00:29.00]Careful to all animals (never washing spiders down the plughole)
[00:32.99]Keep in contact with old friends (enjoy a drink now and then)
[00:36.63]Will frequently check credit at (moral) bank (hole in wall)
[00:42.11]Favours for favours
[00:44.13]Fond but not in love
[00:45.79]Charity standing orders
[00:47.90]On sundays ring road supermarket
[00:50.27](no killing moths or putting boiling water on the ants)
[00:54.60]Car wash (also on sundays)
[00:57.14]No longer afraid of the dark
[00:59.51]Or midday shadows
[01:01.26]Nothing so ridiculously teenage and desperate nothing so childish
[01:04.52]At a better pace
[01:06.22]Slower and more calculated
[01:08.65]No chance of escape
[01:10.24]Now self-employed
[01:11.90]Concerned (but powerless)
[01:13.52]An empowered and informed member of society (pragmatism not idealism)
[01:18.80]Will not cry in public
[01:20.88]Less chance of illness
[01:22.98]Tires that grip in the wet (shot of baby strapped in back seat)
[01:26.82]A good memory
[01:28.78]Still cries at a good film
[01:30.38]Still kisses with saliva
[01:32.34]No longer empty and frantic
[01:34.51]Like a cat
[01:35.81]Tied to a stick
[01:37.24]That's driven into
[01:38.80]Frozen winter shit (the ability to laugh at weakness)
[01:41.70]Calm
[01:43.86]Fitter, healthier and more productive
[01:46.95]A pig
[01:48.10]In a cage
[01:49.23]On antibiotic